Pengertian, Fungsi, Dan Cara Kerja TeamViewer Lengkap
Jakarta - Bukan rahasia lagi bila para pejabat negara menjadi incaran intelijen asing dalam mengorek informasi. Bahkan kini mencuri informasi maupun rahasia negara lebih mudah karena pemakaian gadget (gawai) yang belum diikuti dengan kewaspadaan dini terhadap keamanan cyber para pejabat negara. Pada ajang internet terbesar dunia CeBIT 2015 di Jerman, Edward Snowden menyampaikan bahwa usaha penyadapan semakin meningkat di 2015. Snowden yang menjadi tamu pada ajang tersebut mengungkapkan bahwa admin dan pejabat penting menjadi sasaran penyadapan. Kita terkejut saat bocoran Wikileaks menyatakan bahwa Australia melakukan penyadapan pada Presiden SBY dan kalangan ring satu istana, termasuk Ibu Negara saat itu, Ani Yudhoyono. Pejabat publik sebagai pemegang kebijakan memiliki akses informasi yang bernilai tinggi. Informasi ini dahulu bisa didapatkan dengan human intelligence yang cukup memakan waktu. Seiring bertambah canggihnya teknologi, cyber intelligence mulai diadopsi oleh negara-negara maju. Telepon genggam adalah sasaran utama penyadapan. Penyadapan bisa dilakukan dengan bantuan provider maupun intersepsi di tengah-tengah. Karena itulah setiap ada kasus penyadapan, para provider ini selalu dicurigai bekerja sama untuk asing.
Melakukan intersepsi di tengah-tengah sering disebut 'man in the middle attack'. Membutuhkan alat yang canggih, hanya dijual antar negara. Tak hanya menyadap, bila alatnya mendukung, bisa melakukan modifikasi pesan yang lalu dikirimkan ke nomor tujuan maupun nomor lain. Penggantian nomor telepon maupun ponsel tidak akan bisa membebaskan diri dari target penyadapan. Seiring penggunaan smartphone yang terus meningkat, muncul juga malware seperti Galileo yang bisa ditanamkan ke dalam gawai. Setiap panggilan masuk dan keluar maupun SMS akan terpantau langsung ke alat monitor penyadap. Semakin beragamnya fungsi smartphone juga menaikkan risiko pencurian informasi. Pejabat negara sebagai pengemban kebijakan harus mempunyai kesadaran keamanan cyber yang mumpuni. Tidak harus mengetahui secara detail tentang keamanan cyber, namun mengetahui apa saja hal yang tidak boleh dilakukan. Misalnya soal pemakaian layanan yang gratis seperti email dan cloud. Pernah beberapa tahun silam seorang menteri berujar pada saya betapa bangganya dia memakai salah satu layanan cloud gratis yang terkenal.
Dan menteri tersebut menjelaskan semua tugasnya ditaruh dalam cloud tersebut. Tentu kita bisa bayangkan, file seperti apa yang ditaruh oleh seorang menteri. File yang berisi informasi strategis dan sangat penting. Dalam bisnis informasi, file seperti ini sangat mahal harganya. Menjadi sangat berbahaya karena kita tidak pernah tahu apakah data yang ditaruh di cloud tersebut. Begitu juga dengan email, salah satu perantara tukar informasi yang semakin banyak dipakai dalam era serba digital saat ini. Kita juga dihadapkan pada email gratis yang celakanya dipakai juga secara luas oleh para pengambil kebijakan. Kementrian Luar Negeri misalnya sudah biasa para diplomatnya menggunakan email gratis tanpa pengaman sama sekali. Bukan karena Kemlu tidak punya email resmi, namun email resmi yang ada tersebut belum reliable karena banyak down dan masalah lainnya. Paspampres sebagai ring pertama pengaman Presiden RI juga disorot karena menggunakan email gratisan. Padahal data perjalanan Presiden misalnya sangat krusial dan sangat berbahaya bila asing mengetahui hal tersebut.
0 Response to "Pengertian, Fungsi, Dan Cara Kerja TeamViewer Lengkap"
Posting Komentar